Di tengah dunia yang serba digital, si kecil Gen Alpha tumbuh di lingkungan yang lekat dengan layar dan teknologi. Aktivitas bermain pun perlahan ikut berubah. Meski begitu, banyak orang tua mulai mencari alternatif permainan yang tetap memberi ruang bagi gerak tubuh, interaksi sosial, dan pengalaman langsung di dunia nyata.
Permainan zaman dulu bisa menjadi salah satu pilihan yang masih relevan untuk dikenalkan. Dengan aturan sederhana dan alat yang mudah ditemukan, permainan tradisional memberi kesempatan bagi si kecil untuk bergerak aktif, berinteraksi dengan teman, serta mengeksplorasi lingkungan sekitar. Tanpa harus bergantung pada layar, permainan ini dapat mendukung stimulasi fisik, kognitif, dan sosial secara lebih alami.
Daftar Mainan Zaman Dulu untuk Anak Zaman Sekarang

Di waktu luang, Mommy dan Daddy bisa mengajak anak main dengan permainan sederhana yang tetap aktif dan bermakna. Berikut adalah beberapa jenis mainan zaman dulu yang bisa Parents ajarkan ke buah hati:
1. Congklak (Usia 4–6 tahun)
Congklak dimainkan di papan berlubang dengan biji-bijian kecil. Si kecil mengambil semua biji dari satu lubang, lalu membagikannya satu per satu ke lubang berikutnya sampai habis. Dari proses ini, mereka belajar berhitung, menjaga fokus, dan bersabar menunggu giliran. Mommy dan Daddy bisa menemani sambil ikut menghitung bersama.
2. Engklek (Usia 4–6 tahun)
Pola kotak digambar di lantai atau tanah, lalu si buah hati melompat dengan satu kaki mengikuti urutan kotak. Permainan ini membantu mereka melatih keseimbangan, koordinasi tubuh, dan kontrol gerakan.
3. Lompat Tali (Usia 5–6 tahun)
Dua orang memegang tali, sementara si kecil melompat di tengah. Saat tali dinaikkan bertahap, mereka belajar menyesuaikan tinggi lompatan. Aktivitas ini melatih kekuatan kaki, ritme gerakan, dan keberanian mencoba.
4. Petak Umpet (Usia 3–6 tahun)
Maiann zaman dulu selanjutnya yang masih relevan dimainkan anak zaman sekarang ialah petak umpet. Satu pemain berjaga dan menghitung, sementara yang lain bersembunyi. Permainan ini mengajak si kecil belajar menunggu, mencari, serta mengelola rasa deg-degan dan senang saat ditemukan.
5. Bentengan (Usia 5–6 tahun)
Permainan ini dilakukan dalam dua tim, masing-masing menjaga satu titik sebagai benteng. Si buah hati berlari menyentuh benteng lawan sambil menghindari tangkapan. Dari sini, mereka belajar kerja sama, strategi, dan keberanian mengambil keputusan.
6. Kelereng (Usia 4–6 tahun)
Si kecil duduk atau jongkok, lalu menyentil kelereng ke arah target. Permainan ini melatih koordinasi mata dan tangan, ketelitian, serta kontrol gerakan halus. Mommy bisa membantu mengatur giliran bermain agar suasana tetap menyenangkan.
7. Gasing (Usia 4–6 tahun)
Gasing dililit tali, lalu diputar dengan menarik tali tersebut. Si buah hati mengamati putaran gasing dan membandingkan hasilnya. Aktivitas ini mengasah motorik halus dan pemahaman sebab-akibat.
8. Ular Naga (Usia 3–5 tahun)
Dua pemain membentuk “gerbang”, sementara yang lain berjalan berbaris melewatinya sambil bernyanyi. Permainan ini membantu mereka belajar mengikuti instruksi, ritme, dan berinteraksi dengan teman sebaya.
9. Gobak Sodor (Usia 5–6 tahun)
Parents pasti sudah tidak asing dengan mainan zaman dulu kali ini, Gobak Sodor. Lapangan dibagi beberapa garis. Satu tim menjaga garis, tim lain mencoba melewatinya. Permainan ini melatih kelincahan, kecepatan reaksi, serta kemampuan membaca situasi.
10. Main Pasaran (Usia 3–6 tahun)
Si kecil bermain peran sebagai penjual atau pembeli menggunakan benda di sekitar. Lewat permainan ini, mereka mengembangkan imajinasi, keterampilan komunikasi, dan pemahaman konsep sosial sederhana. Mommy dan Daddy bisa ikut berperan agar suasananya makin hidup.
11. Bekel (Usia 5–6 tahun)
Si buah hati melempar bola kecil, lalu mengambil biji bekel sebelum bola memantul kembali. Aktivitas ini menuntut fokus tinggi dan melatih koordinasi tangan serta ketekunan.
12. Egrang (Usia 5–6 tahun)
Berjalan di atas egrang menjadi tantangan yang menyenangkan. Si kecil belajar menjaga keseimbangan dan percaya diri, dengan pendampingan Daddy agar tetap aman.
13. Balap Karung (Usia 4–6 tahun)
Si buah hati masuk ke dalam karung lalu melompat menuju garis akhir. Permainan ini mengajak mereka aktif bergerak sambil melatih kekuatan kaki dan keseimbangan.
14. Tarik Tambang (Usia 5–6 tahun)
Dua tim saling menarik tambang hingga melewati garis. Lewat permainan ini, si kecil belajar bahwa kekompakan dan kerja sama lebih penting daripada kekuatan sendiri.
15. Telepon Kaleng (Usia 3–5 tahun)
Dua kaleng dihubungkan dengan tali panjang. Si buah hati berbicara dari satu sisi, sementara temannya mendengarkan di sisi lain. Permainan ini membantu mereka memahami konsep suara dan melatih kemampuan mendengar.
16. Cublak-Cublak Suweng (Usia 4–6 tahun)
Satu pemain menebak siapa yang menyembunyikan benda di telapak tangan. Permainan ini melatih fokus, kepekaan, dan kemampuan berpikir logis dengan cara yang menyenangkan.
Baca Juga: Daftar Permainan Edukatif yang Bermanfaat untuk Perkembangan Anak
Permainan zaman dulu tetap relevan karena mampu menghadirkan pengalaman belajar yang aktif, sosial, dan menyenangkan bagi anak Gen Alpha. Dengan memilih permainan sesuai usia dan tahap perkembangan, orang tua dapat membantu anak tumbuh seimbang secara fisik, kognitif, dan emosional.
Di Sparks Preschool, permainan bukan sekadar aktivitas pengisi waktu, melainkan bagian dari proses belajar yang dirancang secara sadar. Melalui pendekatan playing-based learning yang terinspirasi dari kurikulum Finlandia, anak diajak belajar lewat eksplorasi, gerak, interaksi sosial, dan rasa ingin tahu sehingga setiap permainan memiliki tujuan untuk mendukung perkembangan anak secara holistik.


