Memasuki usia 2 tahun, banyak orang tua mulai menghadapi perubahan perilaku anak yang cukup menantang. Anak yang sebelumnya terlihat lebih tenang bisa tiba-tiba menjadi mudah marah, keras kepala, atau sering menangis tanpa sebab yang jelas.
Kondisi ini dikenal sebagai fase terrible two, yaitu tahap perkembangan emosional yang umum terjadi pada anak usia sekitar dua tahun. Meski terasa melelahkan, fase ini sebenarnya merupakan bagian normal dari proses tumbuh kembang.
Apa Itu Fase Terrible Two pada Anak?
Fase terrible two adalah periode ketika anak mulai belajar mengenali emosi, keinginan, dan kemandiriannya sendiri, tetapi belum memiliki kemampuan komunikasi yang matang untuk mengekspresikannya dengan baik.
Pada usia ini, perkembangan otak anak berlangsung pesat. Mereka mulai ingin melakukan banyak hal sendiri, namun sering kali merasa frustrasi ketika tidak berhasil atau tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Rasa frustrasi inilah yang memicu tantrum atau ledakan emosi.
Ciri-ciri Anak yang Mengalami Fase Terrible Two

Setiap anak bisa menunjukkan respons yang berbeda, tetapi beberapa tanda berikut cukup umum terjadi:
1. Sering Tantrum
Anak mudah menangis, berteriak, atau berguling di lantai ketika keinginannya tidak terpenuhi.
2. Ingin Serba Sendiri
Anak mulai berkata “tidak” atau ingin melakukan segala sesuatu tanpa bantuan, meskipun belum mampu sepenuhnya.
3. Emosi Mudah Berubah
Perubahan suasana hati bisa terjadi dengan cepat, dari tertawa menjadi menangis dalam waktu singkat.
4. Sulit Diatur
Anak terlihat lebih keras kepala dan sering menolak instruksi sederhana.
Perlu dipahami bahwa perilaku ini bukan berarti anak “nakal”, melainkan sedang belajar memahami batasan dan mengelola emosinya.
Baca Juga: Anak Kita Termasuk Gen Alpha? Ini Karakter & Cara Mendidiknya
Cara Mengatasi Anak yang Sedang di Fase Terrible Two
Menghadapi fase terrible two memang bisa menguras energi. Namun, alih-alih melihatnya sebagai fase “anak susah diatur”, orang tua bisa memandangnya sebagai masa belajar emosi dan kemandirian.
Berikut beberapa cara yang bisa diterapkan secara lebih natural dalam keseharian:
1. Tetap Tenang Saat Anak Tantrum
Saat anak menangis atau marah besar, respons pertama orang tua sangat menentukan. Jika orang tua ikut emosi, situasi biasanya justru makin memanas.
Cobalah turunkan posisi tubuh sejajar dengan anak dan gunakan suara yang lembut.
Misalnya:
- “Mama tahu kamu sedang marah.”
- “Kamu kesal karena tidak boleh main lagi, ya?”
Kalimat sederhana seperti ini membantu anak merasa dipahami.
2. Validasi Perasaan, Tetap Tegas pada Aturan
Anak usia 2 tahun belum bisa membedakan antara perasaan dan perilaku. Tugas orang tua adalah membantu menjelaskan keduanya.
Contohnya:
- “Kamu boleh marah, tapi tidak boleh memukul.”
- “Kamu kecewa karena ingin permen lagi, tapi hari ini sudah cukup satu.”
Dengan cara ini, anak belajar bahwa emosinya diterima, tetapi tetap ada batasan yang harus dihormati.
3. Beri Pilihan Sederhana agar Anak Merasa Punya Kendali
Di fase terrible two, anak mulai ingin mandiri. Memberi dua pilihan sederhana bisa membantu mengurangi drama.
Misalnya:
- “Kamu mau pakai sepatu sendiri atau Mama bantu?”
- “Sekarang mau mandi dulu atau baca buku dulu sebelum mandi?”
Pilihan seperti ini membuat anak merasa dilibatkan tanpa kehilangan struktur.
4. Siapkan Anak Sebelum Transisi
Banyak tantrum terjadi karena perubahan mendadak. Anak yang sedang asyik bermain bisa langsung menangis saat diminta berhenti.
Cobalah beri pemberitahuan sebelumnya:
- “Lima menit lagi kita rapikan mainannya, ya.”
- “Sebentar lagi kita pulang.”
Cara sederhana ini membantu anak mempersiapkan diri secara mental.
5. Dampingi Sampai Emosinya Reda
Saat tantrum terjadi, kadang anak hanya butuh ditemani. Tidak semua tangisan harus langsung dihentikan.
Duduklah di dekatnya dan katakan:
- “Mama tunggu sampai kamu siap.”
- “Kalau sudah tenang, kita bisa bicara pelan-pelan.”
Kehadiran orang tua yang stabil membuat anak merasa aman.
Baca Juga: Gentle Parenting: Pola Asuh Berbasis Empati untuk Anak Usia Dini
Dampingi Tumbuh Kembang Emosi Anak Bersama Sparks Preschool
Itu dia, Mommy dan Daddy, tentang serba-serbi fase terrible two. Fase terrible two adalah bagian penting dari proses belajar emosi dan kemandirian anak. Di Sparks Preschool, anak-anak dibimbing dalam lingkungan yang hangat dan suportif untuk mengenali perasaan, belajar mengelola emosi, serta membangun rasa percaya diri melalui kegiatan bermain yang terarah sesuai tahap usia.
Mommy dan Daddy tidak perlu menghadapi setiap fase perkembangan sendirian. Yuk, daftarkan si buah hati untuk trial class di Sparks Preschool dan rasakan langsung pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus mendukung tumbuh kembangnya secara optima


