Setiap anak memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan diri. Ada yang mudah berbicara di mana saja, namun ada juga yang hanya nyaman berbicara di lingkungan tertentu. Pada anak usia preschool, hal ini sering kali dianggap sebagai bagian dari fase pemalu.
Namun, bagaimana jika anak benar-benar tidak berbicara sama sekali di sekolah, padahal di rumah ia aktif? Kondisi ini bisa jadi merupakan mutisme selektif. Penting bagi Mommy dan Daddy untuk mengenal tanda-tandanya sejak dini, terutama karena masa preschool adalah fase penting dalam perkembangan sosial dan emosional anak.
Pengertian Mutisme Selektif
Mutisme selektif adalah kondisi di mana anak mampu berbicara dengan normal di situasi tertentu, seperti di rumah, tetapi tidak berbicara di situasi sosial lain, seperti di sekolah atau saat bertemu orang baru.
Kondisi ini bukan karena anak tidak mau menurut, melainkan karena adanya rasa cemas yang cukup besar. Anak sebenarnya ingin berkomunikasi, tetapi merasa tidak aman atau takut sehingga akhirnya memilih diam.
Jika tidak dipahami dengan tepat, mutisme selektif bisa memengaruhi kepercayaan diri dan kemampuan sosial anak dalam jangka panjang.
Ciri-ciri Anak Mutisme Selektif

Setiap anak tentu memiliki kepribadian yang berbeda, termasuk dalam hal berkomunikasi. Namun, pada kondisi mutisme selektif, ada beberapa pola yang mungkin bisa Mommy dan Daddy amati sebagai bahan pertimbangan.
1. Lebih nyaman berbicara di rumah dibanding di luar
Anak mungkin terlihat aktif dan ekspresif saat bersama keluarga, namun menjadi jauh lebih pendiam saat berada di lingkungan seperti preschool atau tempat baru.
2. Cenderung membutuhkan waktu lebih lama untuk merespons
Di situasi sosial tertentu, anak bisa tampak ragu atau membutuhkan waktu lebih lama sebelum merespons, bahkan terkadang memilih untuk tidak berbicara.
3. Menggunakan cara lain untuk berkomunikasi
Alih-alih berbicara, anak mungkin lebih sering menggunakan gesture seperti menunjuk, mengangguk, atau ekspresi wajah untuk menyampaikan keinginannya.
4. Terlihat kurang nyaman di situasi sosial tertentu
Misalnya, anak tampak lebih tenang saat berada di dekat orang yang familiar, namun terlihat lebih berhati-hati atau menarik diri di lingkungan yang belum dikenalnya.
5. Pola ini terlihat konsisten di situasi tertentu
Jika kecenderungan ini terus muncul di lingkungan sosial tertentu (seperti di sekolah) dan berlangsung lebih dari masa adaptasi awal, hal ini bisa menjadi sinyal untuk mulai diperhatikan lebih lanjut.
Penyebab Anak Mutisme Selektif
Setelah memahami cirinya, penting juga untuk mengetahui faktor-faktor yang bisa memengaruhi munculnya mutisme selektif pada anak.
1. Kecemasan sosial
Anak merasa takut dinilai atau melakukan kesalahan saat berbicara di depan orang lain.
2. Sifat anak yang sensitif atau pemalu
Beberapa anak memiliki temperamen yang membuat mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman di lingkungan baru.
3. Perubahan lingkungan
Masuk ke preschool, bertemu guru baru, dan beradaptasi dengan rutinitas yang berbeda bisa menjadi tantangan tersendiri bagi anak.
4. Pola komunikasi di rumah
Tekanan untuk berbicara dengan “benar” atau terlalu sering dikoreksi bisa membuat anak menjadi ragu untuk berbicara.
5. Faktor keluarga
Riwayat kecemasan dalam keluarga juga dapat meningkatkan kemungkinan anak mengalami kondisi serupa.
Baca Juga: Nature vs Nurture: Mana yang Lebih Berperan dalam Membentuk Anak?
Cara Mencegah Mutisme Selektif

Meskipun tidak selalu bisa dicegah sepenuhnya, langkah-langkah berikut dapat membantu anak lebih siap secara emosional, terutama saat memasuki lingkungan preschool.
1. Pilih lingkungan preschool yang suportif
Lingkungan preschool yang hangat, tidak menghakimi, dan memahami kebutuhan emosional anak sangat berperan penting. Guru yang memberikan ruang bagi anak untuk beradaptasi tanpa tekanan dapat membantu anak merasa lebih aman untuk mulai berkomunikasi.
2. Biasakan anak dengan interaksi sosial sejak dini
Sebelum masuk preschool, Mommy dan Daddy bisa mulai dengan playdate atau aktivitas kelompok kecil agar anak terbiasa berinteraksi secara bertahap.
3. Hindari memaksa anak berbicara di sekolah
Baik di rumah maupun di preschool, penting untuk tidak memaksa anak berbicara. Pendekatan yang lembut dan bertahap akan jauh lebih efektif dalam membangun rasa percaya diri.
4. Bangun komunikasi yang positif antara orang tua dan guru
Kerja sama antara Mommy, Daddy, dan pihak preschool sangat penting. Dengan komunikasi yang baik, strategi pendekatan ke anak bisa dilakukan secara konsisten di rumah dan di sekolah.
5. Dukung perkembangan sosial emosional anak
Program yang menekankan social emotional learning (SEL) di preschool dapat membantu anak mengenali emosi, merasa lebih percaya diri, dan berani mengekspresikan diri secara perlahan.
Baca Juga: Speech Delay: Kapan Perlu Khawatir dan Apa yang Bisa Orang Tua Lakukan?
Mutisme selektif pada anak preschool sering kali terlihat sederhana, namun sebenarnya membutuhkan pemahaman dan pendekatan yang tepat. Dengan mengenali ciri dan penyebabnya sejak dini, Mommy dan Daddy bisa memberikan dukungan yang lebih sesuai dengan kebutuhan anak.
Lingkungan preschool yang tepat juga memegang peran besar dalam membantu anak melewati fase ini dengan lebih percaya diri. Melalui pendekatan yang hangat, bertahap, dan berfokus pada perkembangan sosial emosional, anak akan merasa lebih aman untuk mulai membuka diri.
Di Sparks Preschool, anak-anak didampingi dalam lingkungan yang suportif dengan pendekatan play-based learning dan social emotional learning (SEL), sehingga mereka dapat berkembang tidak hanya secara akademik, tetapi juga dalam hal kepercayaan diri dan kemampuan berkomunikasi.


