Dalam praktik sehari-hari, banyak orang tua dihadapkan pada dilema saat mendidik anak. Ketika anak menolak aturan, menangis berlebihan, atau menunjukkan perilaku yang menantang, tidak jarang orang tua merasa bingung harus bersikap tegas atau justru mengalah. Gentle parenting hadir sebagai pendekatan yang menekankan hubungan yang aman, penuh empati, dan tetap memiliki batasan yang jelas. Pendekatan ini semakin relevan, terutama pada masa usia dini, ketika anak sedang belajar mengenali emosi dan membentuk karakter dasar.
Apa yang Dimaksud Gentle Parenting?
Gentle parenting adalah pendekatan pola asuh yang mengedepankan empati, komunikasi yang saling menghargai, serta pendampingan emosional yang konsisten. Dalam gentle parenting, orang tua berperan sebagai pembimbing yang membantu anak memahami perasaannya sekaligus mengarahkan perilakunya secara positif.
Pola asuh ini tidak menggunakan kekerasan fisik maupun verbal. Namun, gentle parenting juga bukan berarti membiarkan anak tanpa aturan. Batasan tetap diterapkan, tetapi disampaikan dengan cara yang lebih tenang, jelas, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Prinsip Gentle Parenting

Gentle parenting memiliki beberapa prinsip dasar yang menjadi landasan dalam setiap interaksi antara orang tua dan anak. Prinsip-prinsip inilah yang membantu orang tua tetap bersikap empatik tanpa kehilangan peran sebagai pembimbing.
1. Empati sebagai fondasi utama pola asuh
Dalam gentle parenting, orang tua diajak untuk memahami emosi anak sebelum merespons perilakunya. Anak usia dini belum mampu mengelola emosinya secara mandiri, sehingga membutuhkan pendampingan orang dewasa untuk mengenali, menamai, dan menyalurkan emosinya dengan tepat.
2. Batasan yang jelas dan konsisten
Gentle parenting tidak menghilangkan aturan. Justru, anak membutuhkan batasan yang konsisten agar merasa aman dan terarah. Aturan yang diterapkan secara konsisten membantu anak memahami konsekuensi serta membangun rasa tanggung jawab sejak dini.
3. Menghargai emosi tanpa membenarkan semua perilaku
Setiap emosi anak valid, namun tidak semua perilaku dapat diterima. Orang tua berperan untuk memvalidasi perasaan anak sekaligus mengarahkan perilakunya agar sesuai dengan nilai dan aturan yang berlaku.
4. Hubungan yang aman sebagai dasar pembelajaran
Kedekatan emosional antara orang tua dan anak menjadi landasan penting dalam gentle parenting. Anak yang merasa aman secara emosional cenderung lebih terbuka, kooperatif, dan percaya diri dalam proses belajarnya.
Tips Menerapkan Gentle Parenting

Setelah memahami prinsip dasarnya, langkah berikutnya adalah menerapkan gentle parenting dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan ini dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang sering ditemui dalam rutinitas bersama anak.
1. Gunakan komunikasi yang tenang, jelas, dan sesuai usia anak
Cara orang tua berbicara sangat memengaruhi cara anak memahami arahan. Gunakan kalimat sederhana, nada yang stabil, dan kontak mata agar pesan dapat diterima dengan lebih efektif.
2. Berikan pilihan yang terarah
Memberikan pilihan terbatas membantu anak belajar mengambil keputusan tanpa merasa kehilangan kontrol. Strategi ini juga melatih kemandirian dan rasa tanggung jawab secara bertahap.
3. Regulasi emosi orang tua sebagai contoh nyata
Anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibandingkan dari apa yang mereka dengar. Saat orang tua mampu mengelola emosinya dengan baik, anak akan meniru pola tersebut dalam menghadapi situasi sulit.
4. Ciptakan rutinitas yang konsisten
Rutinitas membantu anak memahami struktur kegiatan sehari-hari. Dengan rutinitas yang jelas, anak merasa lebih aman dan mampu memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya.
Kesalahan Umum Saat Menerapkan Gentle Parenting
Dalam praktiknya, tidak sedikit orang tua yang mengalami kebingungan atau salah memahami gentle parenting. Mengenali kesalahan yang sering terjadi dapat membantu orang tua menghindari miskonsepsi dan menjalankan pola asuh ini dengan lebih tepat.
1. Menyamakan gentle parenting dengan pola asuh permisif
Salah satu miskonsepsi yang sering terjadi adalah menganggap gentle parenting berarti membiarkan anak tanpa aturan. Padahal, tanpa batasan yang jelas, anak justru berisiko merasa tidak aman dan bingung.
2. Kurang konsisten dalam penerapan aturan
Ketidakkonsistenan dapat menghambat proses belajar anak. Anak membutuhkan respon yang relatif stabil agar dapat memahami harapan dan konsekuensi dari setiap perilaku.
3. Mengabaikan kebutuhan orang tua sendiri
Orang tua sering kali menuntut diri untuk selalu sabar dan tenang. Padahal, menjaga kesejahteraan emosional orang tua juga penting agar pola asuh dapat dijalankan secara berkelanjutan.
Baca Juga: Pentingnya Preschool di Usia Dini Anak
Gentle Parenting di Preschool

Penerapan gentle parenting akan lebih optimal jika anak berada di lingkungan yang sejalan, termasuk di preschool. Lingkungan belajar yang positif membantu anak mengembangkan keterampilan sosial, mengenali emosi, dan memahami aturan dengan cara yang lebih menyenangkan.
Di Sparks Preschool, pendekatan pembelajaran dirancang untuk mendukung perkembangan sosial dan emosional anak melalui kegiatan bermain yang terarah. Anak didampingi oleh pendidik yang memahami tahap perkembangan anak dan berperan sebagai pendamping, bukan sekadar pengajar.
Keselarasan antara pola asuh di rumah dan pendekatan di sekolah membantu anak tumbuh dengan rasa aman, percaya diri, dan siap menghadapi proses belajar selanjutnya. Yuk, dukung si kecil mendapatkan lingkungan yang tepat, baik di rumah maupun di sekolah!


