Mengetahui Apa Itu Permisif Parenting, Ciri-ciri, Dampak, dan Risikonya terhadap Anak

permisif parenting

Permisif adalah pola asuh yang memberikan kebebasan luas kepada anak dengan sedikit aturan dan kontrol. Dalam praktiknya, permissive atau permisif parenting lebih menekankan pada kasih sayang, kehangatan, dan kebebasan berekspresi, tetapi kurang dalam penerapan batasan dan konsekuensi.

Orang tua dengan pola asuh ini biasanya ingin menjadi “teman” bagi anak, menghindari konflik, serta jarang mengatakan “tidak”. Walaupun bertujuan menjaga hubungan yang dekat dan harmonis, kurangnya struktur bisa membuat anak kesulitan memahami batasan sosial dan tanggung jawab.

Ciri-Ciri Didikan Permisif Parenting

Berikut beberapa ciri utama yang sering muncul dalam permisif parenting:

1. Minim Aturan dan Batasan

Pada pola asuh ini, aturan rumah tidak dibuat secara jelas atau tidak ditegakkan secara konsisten. Anak bebas menentukan waktu tidur, waktu bermain gadget, atau memilih aktivitas tanpa banyak arahan.
Akibatnya, anak kurang terbiasa dengan struktur dan rutinitas yang sebenarnya penting untuk perkembangan usia dini.

2. Jarang Memberikan Konsekuensi

Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua cenderung memaklumi atau membiarkannya begitu saja. Konsekuensi jarang diberikan karena orang tua tidak ingin anak merasa sedih atau kecewa.
Padahal, konsekuensi yang tepat membantu anak belajar tentang tanggung jawab dan sebab-akibat.

3. Anak Bebas Mengambil Keputusan Sendiri

Anak diberikan kebebasan besar dalam mengambil keputusan, bahkan untuk hal-hal yang belum sesuai dengan kematangan usianya.
Tanpa pendampingan yang cukup, anak bisa merasa bingung atau kewalahan dalam menentukan pilihan.

4. Orang Tua Menghindari Konflik

Orang tua permisif cenderung mengalah ketika anak tantrum atau menolak aturan. Tujuannya untuk menjaga suasana tetap tenang, tetapi dalam jangka panjang anak bisa belajar bahwa tantrum adalah cara efektif untuk mendapatkan keinginannya.

Kelebihan Permisif Parenting

Walaupun sering dikaitkan dengan dampak negatif, permisif parenting juga memiliki beberapa sisi positif jika diterapkan secara seimbang.

1. Hubungan Orang Tua dan Anak Lebih Hangat

Karena penuh kasih sayang dan minim tekanan, anak biasanya merasa nyaman dan terbuka kepada orang tua. Kedekatan emosional ini dapat membangun rasa aman dalam diri anak.

2. Anak Lebih Ekspresif

Anak yang dibesarkan dengan kebebasan cenderung berani menyampaikan pendapat dan mengekspresikan perasaannya tanpa rasa takut.

3. Mendorong Kreativitas

Karena tidak terlalu dibatasi aturan, anak memiliki ruang eksplorasi yang luas. Hal ini bisa mendukung perkembangan kreativitas dan rasa ingin tahu.

Namun, kelebihan ini akan lebih optimal jika tetap dibarengi dengan batasan yang sehat.

Dampak dan Risiko Permisif Parenting pada Perkembangan Anak Usia Dini

Walaupun terlihat menyenangkan bagi anak, permisif parenting dapat menimbulkan dampak tertentu jika diterapkan secara konsisten tanpa struktur.

Dampak Jangka Pendek

Dalam waktu dekat, anak mungkin terlihat percaya diri dan bebas berekspresi. Namun, anak juga bisa:

  • Sulit mengikuti aturan di sekolah
  • Kurang sabar saat harus menunggu
  • Mudah frustrasi ketika keinginannya tidak terpenuhi

Hal ini terjadi karena anak belum terbiasa menghadapi batasan.

Dampak Jangka Panjang

Dalam jangka panjang, anak berisiko:

  • Kurang disiplin
  • Kesulitan mengatur diri sendiri
  • Tidak terbiasa menghadapi tanggung jawab

Tanpa pembiasaan struktur sejak dini, anak bisa kesulitan beradaptasi dengan tuntutan sosial dan akademik.

Risiko Jika Pola Asuh Ini Berlanjut

Jika permisif parenting diterapkan tanpa evaluasi, risiko yang mungkin muncul antara lain:

  • Lemah dalam self-control
  • Kesulitan menghormati aturan sosial
  • Potensi masalah perilaku di sekolah

Risiko ini muncul bukan karena kurangnya cinta, tetapi karena kurangnya batasan yang konsisten.

Perbedaan Permisif Parenting dan Gentle Parenting

Permisif parenting sering disalahartikan sebagai gentle parenting, padahal keduanya berbeda secara mendasar.

Pada permisif parenting, anak diberi kebebasan luas tanpa batasan tegas.
Sedangkan pada gentle parenting, orang tua tetap menunjukkan empati dan komunikasi yang hangat, tetapi menetapkan aturan yang jelas dan konsisten.

Gentle parenting mengajarkan anak bahwa:

  • Semua perasaan boleh dirasakan
  • Namun tidak semua perilaku bisa diterima

Inilah yang membedakan pola asuh lembut dengan pola asuh permisif.

Batasan-Batasan yang Perlu Diterapkan Orang Tua

Agar tidak terjebak dalam pola permisif yang berlebihan, orang tua dapat mulai menerapkan batasan sehat seperti:

1. Aturan yang Konsisten

Buat aturan sederhana sesuai usia anak dan terapkan secara konsisten agar anak memahami ekspektasi.

2. Konsekuensi yang Logis

Konsekuensi tidak harus berupa hukuman keras, tetapi bisa berupa konsekuensi alami yang membantu anak belajar dari pengalaman.

3. Pendampingan dalam Mengambil Keputusan

Berikan pilihan terbatas agar anak belajar mengambil keputusan tanpa merasa kewalahan.

Dengan keseimbangan antara kasih sayang dan ketegasan, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang mandiri sekaligus bertanggung jawab.

Baca Juga: Ketahui Fase Golden Age Anak dan Cara Mengoptimalkan Pertumbuhannya

Perkembangan anak tidak hanya dipengaruhi pola asuh di rumah, tetapi juga lingkungan sekolah. Di Sparks Preschool, anak dibimbing dengan pendekatan yang menggabungkan empati, struktur, serta pembiasaan tanggung jawab sesuai tahap perkembangan.

Lingkungan belajar yang terarah membantu anak memahami batasan secara positif, membangun kemandirian, serta mengembangkan kemampuan sosial dan emosional secara seimbang.

Daftar trial class Sparks Preschool sekarang juga!

Related Articles